KEKUATAN BAHASA TERHADAP KEHIDUPAN KELUARGA


Kehidupan dalam rumah tangga yang umumnya semua orang meenginginkan kehidupan yang harmonis, semua anggota keluarga hidup rukun berdampingan. Memang mimpi seperti itu akan menjadi indah jika ada dalam hidup kita, namun seringkali kebiasaan yang membawa kehancuran dalam keharmonisan keluarga timbul dari salah kata atau pengucapan bahasa yang menyinggung perasaan salah satu anggota keluarga kita.

Pernah diungkapkan dalam seminar diluar negri, ada seorang pembicara sedang menyampaikan materi tentang kekuatan sebuah kata. Ternyata dari sudut pandangnya bisa menggugah banyak hati manusia untuk menyadari bahwa tidak boleh sembarangan mengucapkan sebuah kata, karena kata itu bisa mempengaruhi jiwa atau psikologis manusia. Ia memisalkan dengan anaknya sendiri, ketika itu anaknya yang masih kecil sedang menggambar sesuai imajinasinya sendiri di tembok kamarnya, lalu ia mengetahuinya. Selaku ayah, ia lalu memarahi anak itu, "heii heii, jangan seperti itu, itu tidak baik!!" dengan nada keras terhadap anaknya. Anak itu menjadi agak takut dan merasa kurang puas karena dimarahi ayahnya sendiri. Lambat laun anak ini menjadi semakin nakal saja, dan ayahnya mengetahuinya sedang menggambar ditembok lagi. Ketika ayahnya datang, anak itu tetap mencoret-coret tembok sambil memelototi ayahnya. Kali ini sang ayah tidak langsung memarahinya, melainkan ia berjongkok dan memanggilnya. "Kamu sudah besar, hal seperti itu tidak baik untuk kamu lakukan." Seketika itu anaknya langsung bangga karena dipuji sudah besar dan tidak perlu melakukan hal seperi itu lagi.

Dari peristiwa ini dapat diambil kesimpulan bahwa yang terjadi dalam dunia ini berawal dari satu mulut kemulut yang lain. Ketika anak tersebut di marahi dengan nada tinggi dan merasa dipojokkan maka tidak ada salahnya jika anak ini tetap memberontak untuk menonjolkan diri kepada banyak orang disekitarnya, tapi hal seperti itu di masyarakat tampak sebagai anak yang nakal. Setelah anak ini mendapatkan sebuah pujian atau penghargaan atas kebanggaannya menjadi anak yang sudah besar, dan ditunjukkan dalam hal ini diartikan mendidik bahwa hal seperti mencoret tembok itu tidak perlu atau tidak pantas dilakukan oleh anak sebesar usia anak tersebut. 

Ketika orang merasa disisihkan atau diasingkan dari sebuah kelompok maka secara otomatis orang tersebut akan mendobrak pintu hatinya untuk menjadi sosok yang diakui oleh banyak orang. Bisa jadi orang tersebut larinya kearah ayng positif atau negatif. Hal ini tergantung dari kondisi dan situasi yang ada di lapangan saat itu.

Bahasa yang pantas untuk membawakan keharmonisan dalam sebuah kehidupan berumah tangga ialah menggunakan bahasa yang cocok dengan kebudayaan yang ada ditempatnya dan tidak boleh memperpanjang masalah yang pernah terjadi. Seringkali keluarga mengalami kegagalan (cerai) karena kesalahpahaman, namun hal itu dapat diatasi jika salah satu pihak memilih menghadapinya dengan kepala dingin dan mau memahamkan pihak yang bersangkutan agar menjadikan sebuah masalah itu netral kembali. tidak harus memendam masalah sendiri pula, jika dirasa berat maka tidak ada salahnya untuk mengungkapkannya kepada pasangan hidup yag lebih tepat untuk menjadi tempat curhatnya daripada kepada sang buah hatinya.

Dengan menggunakan bahasa yang lebih santai dan luwes terhadap orang lain maka akan menjadikan suasana menjadi nyaman dan tentram dalam kehidupan berumah tangga. Tidak akan ada perselisihan dalam rumah tangga jika mau memahamai satu sama lain.

Perlu diingat, gunakanlah bahasa yang santai dan sesuai dengan suasana budaya yang ada disana, agar tidak menyinggung perasaan orang lain.



Pencarian lain :
#cara membuat keluarga harmonis
#keluarga bahagia
#keluarga berencana
#motivasi keluarga
KEKUATAN BAHASA TERHADAP KEHIDUPAN KELUARGA KEKUATAN BAHASA TERHADAP KEHIDUPAN KELUARGA Reviewed by Ahmad Ubaidillah on 12/18/2017 07:31:00 PM Rating: 5